Menggapai Harapan Lahirnya Bung Hatta Baru Untuk Tanah Air: Refleksi dan Pandangan Bung Hatta (1902-1932) - Diallogi

HEADLINE

Post Top Ad

<>

Rabu, 18 Desember 2019

Menggapai Harapan Lahirnya Bung Hatta Baru Untuk Tanah Air: Refleksi dan Pandangan Bung Hatta (1902-1932)

Selasa (17/12), UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta mengadakan seminar kajian bahan pustaka dengan mengangkat tema “Pemuda Indonesia dan Politik: Refleksi dan Pandangan Bung Hatta Tahun 1902-1932”. Acara seminar ini dihadiri oleh sekitar 300 peserta dari berbagai kalangan mahasiswa, guru, dll.
Narasumber yang dihadirkan UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta adalah Zamakhsyari Abrar, Drs. Melfi Abra, M. Si, Dr. Silfia Hanani, dan dimoderatori oleh Dra. Nurjani, M. Si.
Dalam seminar ini, materi yang disampaikan mengulas seputar kilas balik sejarah Athar yaitu nama kecil dari Mohammad Hatta, Wakil Presiden RI pertama. Mohammad Hatta atau Bung Hatta lahir di Bukittinggi pada tanggal 12 Agustus 1902. Sosok Bung Hatta dan segala prestasi serta karakternya tidaklah dibangun dengan tiba-tiba, melainkan sejak kecil Bung Hatta telah ditempa melalui pola asuh, sekolah, dan pendidikan agama yang kuat dari gurunya Syeikh Djamil Djambek (seorang ulama besar di Bukittinggi). Dalam perjalanannya, kesadaran Bung Hatta pada politik dimulai sejak usia 16 tahun, dimana Hatta tergabung menjadi aktivis organisasi sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond (JSB).

Membahas perjuangan Bung Hatta memang sangat menarik, terlebih bagi pemuda Indonesia saat ini. Pak Melfi pun menyampaikan bahwa untuk menjadi Bung Hatta selanjutnya mungkin caranya akan berbeda dengan zaman Bung Hatta waktu dulu.
“Memang bentuk perjuangannya akan berbeda, karena tantangan generasi saat ini bukan lagi menghadapi penjajah, melainkan persaingan era globalisasi dan revolusi 4.0. Sehingga generasi saat ini dihadapkan pada cita-cita dan masa depan untuk bertahan hidup juga berprestasi dengan lifeskill didunia yang terus bergerak dinamis”

Bung Hatta memang menjadi salah satu tokoh yang patut untuk ditiru oleh pemuda Indonesia masa kini (millenial) terlebih bagi mereka yang ingin terjun ke politik. Karena Hatta berpolitik  secara matang, berpolitik tidak hanya perihal keinginan tapi dibangun dengan karakter dan pendidikan. Alasan Bung Hatta berpolitik  juga bukanlah untuk menambah kekayaan atau mencari makan, melainkan hanya untuk memperjuangkan kesejahteraan bangsa Indonesia. Selain itu Bung Hatta dikenal sebagai sosok yang Istiqomah, karena Bung  Hatta mau melepaskan jabatannya sebagai wakil presiden sebab pandangannya sudah tak sejalan atau adanya perbedaan visi dan pendekatannya dalam mengelola negara dengan bapak proklamator.

Disamping itu, ada sisi menarik lainnya dari Bung Hatta sebagaimana disampaikan oleh Ibu Silfia Hanani.
“Sewaktu akan di penjara dan diasingkan ada hal menarik dari Bung Hatta ini, bahwa Hatta membawa semua buku-bukunya, tidak ingin ditinggal. Oleh karena itu Hatta pernah mengatakakan  Aku Rela Dipenjara Asal Bersama Buku, Karena Dengan Buku Aku Bebas”.

Dalam kisahnya, Bung Hatta juga memiliki sisi romantis tersendiri, dimana Bung Hatta pernah berjanji tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Hingga akhirnya 18 November 1945 Bung Hatta menikah dengan Siti Rahmiati Rachim dengan mempersembahkan buku hasil karyanya yang berjudul “Alam Bawah Sadar Yunani” kumpulan pemikiran Bung Hatta dan ditulis ketika berada dalam penjara. 
Penutupan
Bung Hatta memang layak untuk dijadikan sebagai panutan atau trensetter bagi generasi masa kini terutama karakter moral, karakter kinerjanya dalam meningkatkan kompetensi (critical, creatif, communicatife, colaboration) serta literasi. (Sani Utami)

5 komentar:

  1. Bung Hatta yang asli orang Bukittinggi, tidak hanya membahagiakan orang Bukittinggi saja, tetapi seluruh rakyat Indonesia merasakan kekagumannya terhadap perjuangan beliau. Alfatihah utk Bung Hatta. Semoga perjuanganmu menjadi ladang amal..

    BalasHapus
  2. Sosok bung hatta memang harus sangat patut dicontoh utk pemuda Indonesia jaman skrg yang berpolitik bukan untuk menambah kekayaan tapi untuk memperjuangkan kesejahteraan bangsa Indonesia.

    BalasHapus
  3. Semoga ke depannya bisa makin banyak diadakan seminar yang membahas tentang bung hatta seperti ini yak

    BalasHapus
  4. Semoga keteladanan Bung Hatta mengakar dijiwa kita..

    BalasHapus
  5. masih blog baru kembangkan lagi, jika ingin konsul dan ingin tau blog saya silahkan japri

    BalasHapus

Post Top Ad

<>