Diallogi: Story_Time

HEADLINE

Post Top Ad

<>
Tampilkan postingan dengan label Story_Time. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story_Time. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 September 2021

Bukan Memaksa, Hanya Sedang Mengupayakan Diri

September 10, 2021 0

Sebelumnya terpikir, setidaknya diri butuh seseorang meski hanya satu namun itu bisa untuk diandalkan.


Namun sesaat kemudian, bagian mana yang diri senangi saat mencoba mengandalkan seseorang? Tidak satupun.


Take and give, timbal balik, atau hal sejenisnya. Tidak ada yang mengharuskan, begitupun diri. Dan diri tidak mempermasalahkan Itu, wajar saja jika dalam sudut pandangku itu berbeda denganmu.


Kemudian terlalu mandiri, bagiku segala sesuatu dalam diri adalah tanggung jawabnya masing-masing. Mencoba mempercayakannya dengan orang lain, itu bullshit. Begitu yang dialami. Sekali lagi, berbeda denganmu itu tak masalah, itu bagianmu dan urusanmu.


Bagianku hanya menulis ini, menuangkan pembelajaran hidup baru yang diri dapatkan. Tidak termasuk meyakinkanmu untuk setuju. 


Dan terlalu mandiri yang diri maksudkan, tidaklah niat mengingkari hukum manusia sebagai makhluk sosial. 


Diri masih butuh makan, membuat makanan memang bukanlah keahlian diri. Namun diri punya sebuah keharusan untuk makan. 


Untuk makan, tak melulu memintamu membuatkan, mencarikan, atau membelikan. Biar diri upayakan dengan menjemputnya sebagaimana kemampuan diri.


Jika kemudian aku membelinya, sudah tugas dan pilihanmu menyajikan dan menjajakan itu pada diri.


Setiap kita punya bagian, peran dan tujuan masing-masing.


Apa yang menjadi bagian diri, biarlah diri upayakan dan usahakan.


Jika nanti apa yang akan diupayakan ternyata sama dengan yang ingin atau sedang kamu lakukan, berarti kita sedang berada pada frekuensi yang sama, saling membutuhkan.


Diri lapar, kamu menyediakan dan menjual makanan. Diri akan beli dan kamu akan terima uangnya.


Tapi tak ada aturan bahwa setiap diri lapar harus membeli makanan yang kamu jajakan. Adakalanya seleraku bisa saja se frekuensi dengan yang lain, dan itu bukan kamu. 


Atau dalam kasus lain, bisa saja kamu sedang tidak jualan. Dan memaksamu untuk tetap menyajikan makanan bukanlah sebuah kebijaksanaan. Jadi sudah menjadi bagianku untuk mencari tempat makan yang lain, membelinya, makan dan lalu kenyang.


Intinya, diri tak ingin membebani kamu. Jika pernah, maka maaf. Jika ada kata yang lebih indah dari maaf, maka akan ku pilihkan itu untuk kamu.


Kenapa begitu? Tenang ini bukan cuma atau tentang kamu, tapi karena diri juga tak ingin semakin membebani diri.


Menjadi keharusan dan mengupayakan apa yang diri ingini sudah semestinya begitu. Bagian itu bukan beban, itu kewajiban.


Lalu konsep beban bagaimana yang diri maksud?

Konsep itu ada dikepalaku, namun jika kamu mau menunggu tanpa kepastian untuk tahu jawabannya, maka tunggulah. Jika tidak, ya sudah. Terserah.


Demikian. (Sani Utami)

Read More

Rabu, 03 Maret 2021

Antara Aku dan Atribut Penyelamatku

Maret 03, 2021 3

 

Chapter 02 _ Kisah ini diambil based on true story ya. Kejadiannya belum lama, waktu itu Senin pagi, 22 Februari 2021.


Singkatnya bertahun-tahun selain jadi beban keluarga juga jadi beban teman, lantaran tidak bisa mengendarai sepeda motor. Kalian yang ga bisa berkendara pernah ngerasa gitu juga ga sih? Tapi terkadang ada senengnya juga, karna kalau pergi kemana-mana pasti diantar jemput, berasa jadi orang penting. Ga tau kenapa pokoknya gitu dah, titik.


Namun semenjak Agustus 2020, bisa mengendarai sepeda motor adalah salah satu pencapaian besar didalam hidup. Bangga dong, karena menurutku pada masa ini bisa berkendara itu penting, bukan lagi buat gaya-gayaan atau pamer, melainkan lebih menjadi kebutuhan. Memang sih balik lagi, kebutuhan setiap orang itu beda. Heran dah cari aman mulu, tapi ya bodo amat.


Kembali ke cerita, nah berkat itu dibanyak kesempatan ada ratusan hal yang bisa kulakukan lewat berkendara sendiri. Perihal berkendara tak hanya motor yang harus kupersiapkan, melainkan juga atribut pentingnya yaitu 'helm' dan yang sering kupakai karena dingin adalah 'sarung tangan', jika jauh pakai sepatu itu wajib.


Seringkali hanya untuk menempuh jarak dekat atau hanya diwilayah yang jarang terpantau para pria berseragam coklat, atribut utama yaitu 'helm' acapkali terabai. Aku sering melakukannya. Entah merasa ga penting, ribet, risih, bikin sakit kepala, sakit leher atau bikin penyok jilbab? Padahal mah kalo dipikir pakek jilbab ataupun enggak pas motoran kehempas angin ya bakal semrawut juga, tapi ya gitu seringnya. Kagak tau juga pastinya yang mana, susah dijelasin.


Hingga kemudian pada Senin (22/02/2021) menyadarkan bahwa atribut-atribut itulah yang menyelamatkanku dari peristiwa kecelakaan jatuh dari motor. Dan lewat peristiwa tersebutlah baru benar-benar kurasakan seperti apa manfaat dari 'helm'.


Apa? Jatuh dari motor? Iya jatuh mah biasa, kata orang bawak motor kalo belum jatuh ga afdol. Keadaannya gimana? Alhamdulillah lecetnya ga banyak, lukanya ga banyak, hanya memar bin terkilir sana sini dan ga parah berkat atribut-atribut itu. Lihat aku, udah jatuh masih bisa merasa 'untung' bin seberuntung ini, Indonesia banget dah.


Bagaimana tidak, jika pagi itu atribut berkendara tak kukenakan, naaslah peristiwa yang kualami. Karena waktu itu bagian kepala depan yang mendarat duluan, untung terlindung dari kaca helm, begitupun bagian tubuh lain yang mendarat kemudian jadi aman dan terlindung berkat atribut-atribut tambahan.


Ketika diingatkan memang terdengar sepele. Tapi saat merasakannya, baru akan benar-benar disadari bagaimana maknanya. Ya itulah salah satu penyakit hidup,... hidupku. Hahaha


Pesennya, berkendaralah yang baik pakai helm dengan benar. Bukan menggurui, ini pesan untukku saja kok, hehe canda untukku. Karena gini, kita ga pernah tahu kapan petaka itu akan datang, entah jaraknya dekat atau jauh ga pernah ada jaminan. (Sani Utami)


#30haribercerita #30hariberceritamaret #30hbc #30hbc21 #sanibercerita #30hbc2102

Read More

Senin, 01 Maret 2021

Jumawanya Ego

Maret 01, 2021 0

Chapter 01_ Bismillahirrahmanirrahim...

Entah mengapa hari ini terbesit keinginan untuk menuaikan kisah dalam 30 hari bercerita di bulan Maret. Bingung, sumpah awalnya ga tau mau nulis apaan. Tapi jemari ini dengan PD nya aja gitu mencetin tombol qwerty.


Tujuannya sih simple, sebagai self reminder kalau tiap harinya itu akan selalu ada hal yang sifatnya nano-nano tapi wajib di syukuri. Apapun itu, karena menurutku pada hakekatnya semua baik, hanya tinggal dari sudut pandang mana kita menilai. Menurutku loh ya, tidak sama itu biasa.


Tapi harus diinget juga, "baik" belum tentu akan selalu bisa kita terima. Kenapa? Emang ritmenya gitu gak sih??


Misalnya, orang salah ketika diingetin malah marah, malah nyolot, ga terima. Kontennya sebenarnya baik kan, ngingetin atau ngasih tau dia biar tahu. Tapi respon dirinya malah nolak. Ada juga hal ini disebabkan karena cara ngasih tahunya yang ga baik, dan ada juga faktor-faktor lainnya.


Jadi setelah kupikirkan dibanyak kejadian, apa yang kita ingini tidak selalu berjalan lurus, adakalanya ia akan berbanding terbalik dengan realita yang terjadi.


Memang, yang diingini, dikehendaki sudah kita rancang begitu apik dengan berbagai strategi, plan A maupun B. Tapi tetap saja didunia ini banyak variabel kontrol yang ga bisa kita kontrol.


Lalu? Tak usah melulu menyalahkan diri atau keadaan, melainkan dari kesemuanya ini belajar menerima, belajar ikhlas itu yang utama. (Sani Utami)


#30haribercerita #30hariberceritamaret #30hbc #30hbc21 #sanibercerita #30hbc2101

Read More

Kamis, 15 Oktober 2020

S. Psi . . . Alhamdulillah SAH | Part 3 Kisah-Kasih Skripsian

Oktober 15, 2020 0

Sumber Kompasiana.com
Haii…Tanpa basa-basi lagi untuk part yang terakhir ini karena nunggunya cukup lama, cus langsung aja kita awali sobat.


 Jadi dipenghujung masa kuliah waktu itu pro dan kontra dalam diri mulai menyelimuti. Rasanya masih terlalu dini untuk melepaskan status sebagai mahasiswa Psikologi UNP, rasanya masih terlalu banyak kegiatan yang belum tercapai sewaktu menjadi mahasiswa, rasanya bekal yang dimiliki juga belum cukup untuk mengakhiri kisah sebagai mahasiswa, dan pokoknya masih banyak rasa-rasa lainnya yang membuat berat untuk meninggalkan status sebagai mahasiswa.


 Ditambah keseluruhannya seakan diperkuat karena berbagai musibah seperti HP yang hilang, lalu kemudian laptop yang rusak sehingga menghambat proses pengerjaan tugas akhirku. Hanyakah alasan? Entahlah…


 Yang pasti sebab itu, otakku berpikir keras untuk berkegiatan terlebih menghasilkan. Iyap, bekerja. Lalu pertanyaan selanjutnya mau kerja apa? Jawaban diri ini bebas, yang penting kerja.

 

Setelahnya, mulai kulakukan riset loker-loker yang tersedia dimedia sosial dan pilihanku waktu itu jatuh pada 2 hal, namun yang terlaksana hanya 1 hal yaitu BAZNAS Kota Bukittinggi. Tak masalah, kalau rezeki ga kemana kok.

 

Melewati proses menghantarkan surat lamaran kerja, lulus seleksi administrasi, tes tertulis, kemudian lulus tes tertulis, wawancara, lulus tes wawancara, hingga akhirnya sah bekerja di BAZNAS dengan masa kontrak 3 bulan.

 


Semua berlalu, hingga waktunya diri berpikir untuk pulang. Ya pulang kembali ke tanggung jawab awal yaitu menyelesaikan studi sebagai mahasiswa. Karena rumah (kampus, perkuliahan dan bimbingan) sudah begitu lama terabai, dan kini sudah tiba waktunya untuk mengakhiri.

 

Di awali dengan HP baru, kemudian laptop baru (walau second), dan Bismillah berangkat dengan judul baru untuk menemui pembimbing. Mungkin setengah tahun tak bersua membuat ketakutan dalam diri ini memuncak. Jujur, memulai itu berat kawan. Terlebih kebanyakan teman satu angkatan sudah banyak yang bergelar, sedang diri masih masih sibuk untuk memulai. Namun setelah dipikir-pikir, bodo amat juga dengan orang lain. Karena jalan wisuda setiap orang itu berbeda, dan tiap kita punya cerita.

 

Satu bulan lamanya mencari fenomena, menetapkan judul, mencari dan membaca referensi, mengumpulkan bahan, hingga membuat latar belakang awal yang selesai pada akhir Agustus 2019 serta siap untuk diajukan kembali pada pembimbing.

 

Untuk sekedar kalian tahu pembimbingku adalah pak Rinaldi, S. Psi., M. Si. atau kerap disapa pak Rey. Dimana tiap bimbingan dengannya yang wajib dibawa adalah jurnal penelitian, jurnal lagi dan jurnal terus. Awalnya agak sedikit pesimis tapi juga optimis untuk menemui beliau dan berharap dalam waktu dekat bisa segera acc sempro.

 

Kenapa pesimis? Harusnya kamu sudah tahu, hampir setengah tahun lamanya tak pernah bimbingan, judul lama terasa usang dan terbuang, lalu sok-sok’an mulai dengan yang baru. “Gamasalah… lanjut aja san…,” semangat dalam diri.

 

Sambutan yang tak disangka, memulai beberapa proses kemudian judul diterima, lanjut BAB I, BAB II, BAB III dan September 2019 akhir, acc sempro didapatkan. Emang ga pernah nyangka dapat pembimbing sebaik ini dan support mahasiswa banget.

 

Alhamdulillah dengan kurang lebih sebulan berjuang menyusun proposal berakhir manis. Senengnya minta ampun dong. Pokoknya seneng banget meskipun baru sempro doang.

 

Cuss… daftar sempro, butuh waktu 2 minggu menunggu untuk hari yang ditunggu-tunggu. Selasa 15 Oktober 2019, waktu itulah momentnya untuk menebus rindu presentasi karena sudah lama sekali tidak pernah melakukannya lagi. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar dan lulus dengan sedikit revisi. BTW pengujiku saat itu adalah ibu Devi dan ibu Tari.

 

Perjalanan revisi pasca sempro pun dijalani. Usai revisian, mulailah disibukkan dengan penyusunan alat ukur. Percayalah, proses ini banyak banget ilmu yang didapetin tapi ga ada mata kuliahnya. Harus sabar, menghargai waktu, tahan ego, mau mendengarkan orang lain, dan pokoknya banyak lagi.

 

Setelah berbulan-bulan lamanya datanglah Januari 2020. Fix alat ukur, uji coba alat ukur hingga akhirnya penelitian. Penelitianku dilakukan disalah satu SMP di Kota Bukittinggi, waktu itu juga dihadapkan dengan orang-orang yang luar biasa banget baiknya seperti pak Bobby, buk Des, dan buk Nel. Jujur mereka welcome banget dan ngebantu penelitianku sampai akhir. Kepada pihak SMP 3 Bukittinggi dan kepada para siswanya yang juga kece-kece dan seru-seru makasih banyak ya… salam dari saya Sani Utami…

 

Februari selesai penelitian dan juga olah data. Kemudian mulai menyusun BAB IV dan V hingga awal maret. Di bulan yang sama juga mengharuskan diri untuk mulai bimbingan kembali dengan pembimbingku. Revisi dan revisi lagi, sampai kemudian Corona (Covid-19) datang dan menghambat proses bimbingan. Menghambat? Kan bisa online.

 

Iyap, memang kemudian bimbingan dilakukan secara online dan syukur Alhamdulillah direstui untuk sidang skripsi. Wah seneng lagi dong… kali ini beneran detik-detik sampai finish. Terimakasih diri udah sekuat dan seberjuang ini.

 

Rabu, 20 Mei 2020  sidang skripsi pun akhirnya terlaksana ditengah-tengah masa pandemi seperti ini. Ada yang berbeda dan tak seperti biasanya yang langsung bertatap muka, melainkan kami dipertemukan lewat layar zoom dengan pembimbing dan kedua penguji yang siap menguji skripsiku. Terimakasih sudah meluangkan waktunya bapak dan ibu.

 


Dihari itu juga S. Psi sudah didapatkan namun belum dipestakan saja dengan acara wisuda yang jatuh tempo pada 21 Juni 2020 dan akan dilaksanakan secara virtual juga. Sedikit kecewa, tapi ya nikmati aja, ambil hikmahnya. Mungkin benar agak terdengar miris, upacara yang kebanyakan mahasiswa impikan, sakralnya, terlebih diri ini 5 tahun kuliah dan diakhiri dengan begitu saja. Dari pagi mantengin zoom eh tiba-tiba udah resmi jadi alumni aja. Hehee, ga apalah, terima saja. Intinya satu, harus tetap bersyukur.

 


Kupikir proses ini juga menjadi salah satu trigger dalam hidupku. Terlambat wisuda bukanlah plan yang aku ingini, bukan juga target perjalanan hidup yang tertulis dalam harapku. Terlebih berada dititik ini bukan hanya tentang diri, tapi juga orang tua. Pernah ada rasa malu Sani gagal lulus 4 tahun, ada masanya iri melihat postingan teman yang sedari dulu sibuk dengan toga terlebih karirnya. Sedang diri masih merasa stagnan, terjebak dengan situasi. Tapi dilain sisi, berkat titik ini juga banyak hal-hal luar biasa yang singgah dan patut untuk aku syukuri. Mungkin saja jika seorang Sani lulus 4 tahun kejadian-kejadian itu ga akan pernah dialami, dan belum tentu juga akan menjadikan sosok Sani seperti saat sekarang ini.

 

Ya, seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, “Jalan wisuda orang itu beda-beda, dan setiap kita akan punya cerita menarik dibalik ini,”. Pada titik tertentu, mungkin kamu akan paham maksudnya apa. (Sani Utami)

Read More

Selasa, 29 September 2020

S. Psi . . . Alhamdulillah SAH | Part 2 Sepenggal Kisah Perkuliahan di Psikologi UNP

September 29, 2020 0


Jeng jengg…

Eh ketemu lagi, hallo hai…

Mungkin beberapa episode kedepan, ceritanya masih dalam rangka memperingati Sahnya S. Psi. Penting ga penting sih sebenarnya, tapi ini adalah bentuk apresiasi diri, mengenang masa dimana semuanya itu butuh  diperjuangkan. Mungkin akan banyak yang terlewat, lolos dari seleksi, tapi kisahku, kisah ini rasanya sudah cukup menghibur diri. So, berharap kalian para sobat-sobatku sekalian pada kepo ya. Biar rame, dan Diallogi makin semangat buat update lagi, lagi dan lagi… hehee… kuyy capcuss…

 

Awal masa perkuliahan tepatnya di Tahun 2015 bulan Agustus, dan artinya banyak hal baru bermula disini. Kehidupan anak koss misalnya, maknanya pun belum kupahami apa, namun sudah sangat melekat sedari dini.

Oke sobat, daripada bingung disini akan kuceritakan sepenggal kisahnya, perihal apa itu anak koss:

- Kehidupan anak koss adalah bentuk kehidupan baru dimana mau apa-apa urus sendiri.

- Dahulu bangun tidur ditandai dengan suara Ibu namun kemudian tergantikan dengan alarm HP.

-Dahulu sebelum kesekolah hidangan sarapan sudah siap tersaji, namun kemudian tiba-tiba itu menghilang.

-Dan Dahulu segala kebutuhan seperti kebutuhan alat mandi, detergen, sudah tersedia dirumah, dan setelahnya terganti dengan kalimat “urus sendiri” hahaha…

 

Semiris itukah kehidupan anak kos??? Ya bisa diakui iya, tapi kadang-kadang  aja kok sobat, kadang-kadang dalam artian yang fiktif tapi ya. Wkwk

Meskipun demikian, dengan sendiri mengajarkan kita menjadi mandiri loh, dan asal kalian tahu semuanya yang terjadi itu adalah ilmu. Dimanapun berada, dan bagaimanapun kita, yang   namanya proses adaptasi itu penting sobat.

 


Oh iya, asal kamu tahu kalau dikampus Psikologi UNP yang berlokasi di Belakang Balok, Bukittinggi, Sumatera Barat ini lingkupnya kecil, karena kampus ini merupakan salah satu kampus cabang. Tak heran jika kekeluargaan disini sangat dijunjung erat. Oleh karena itu, tuntutan untuk saling mengenal satu sama lain terlebih dengan “senior” sangat ditekankan.

 

Namun apalah daya dengan diri ini yang terlalu banyak malasnya waktu itu. Mengapa? Ya karena rasanya percuma aja gitu, kenalan hari ini besoknya dah lupa. Jadi, tolonglah pahami ingatan yang tidak seberapa ini…hehehe

Oh iya, BTW dalam 2 atau 3 tahun terakhir ini kampus psikologi sudah ada kok yang di Padang, jadi mahasiswanya dibagi dua tuh, sebagian ada yang di kampus Bukittinggi dan sebagian lagi ada yang di kampus Padang.

 

Balik lagi kecerita tadi, hari berganti hari, kadang dinanti kadang juga berharap untuk berhenti. Loh ada apa? Entahlah, terkadang diri hanya ingin mengatakan Lelah.

 

Tetapi berkat konflik dengan masalah mengenal senior ini, akhirnya mendorong otak untuk terus berotasi. Rasanya akan lebih menyenangkan mengenal seseorang lebih dalam meski sedikit daripada mengenal banyak orang dengan ikatan yang sangat dangkal. Itu menurutku loh ya, tidak tahu dengan kamu.

 

Untung saja waktu itu di Kampus Psikologi UNP menyuguhkan begitu banyak komunitas-komunitas yang cukup menarik. Dari berbagai pengenalan komunitas waktu itu, akhirnya diri memutuskan untuk jatuh pada komunitas KATARSIS (kumpulan orang-orang teatrikal) dan Psikopers (Ini seperti persnya anak psikologi dalam lingkup mini). Lalu rasanya ada juga ikut komunitas Bahasa Inggris namun hanya sebentar, dan entrepreneur club yang tidak lama.

 

Dari keseluruhan yang dijalani, semuanya punya cerita dan menemani segala proses hingga kini. KATARSIS contohnya, lingkupnya memang tak terlalu besar namun kekeluargaannya begitu terjaga. Disana aku mulai mengenal sosok nek uyut (sapaan untuk kak Nurul), apak (sapaan untuk Bang Dimas), abah (sapaan untuk bang Habib), kemudian ada bang Emo, bang Ilham, kak Uci, kak Mala, ka Gita, kak Fina, teteh, mpit, adek, mput dan teman-teman lainnya yang tak bisa tersebutkan disini.


Selain tergabung dalam club ataupun komunitas, rasanya kalau ga ada temen deket tu masih ada yang kurang-kurang gimana gitu yaa… Untung untuk kesekian kalinya disini aku juga punya sedikit manusia-manusia yang selalu hadir dalam suka dan duka, menampung cerita yang aneh-aneh, dan melakukan hal yang aneh-aneh pula. Iya, mereka adek sama mput. Hehe



Kalau dalam urusan pembelajaran, awalnya agak kaget sih. Karena emang beda banget sama masa SMA. Sedikit keteteran sih waktu itu, tapi over all masih bisa dinikmati dan ok aja. Kalau saran dari para senior tuh katanya gini “kuliah tu ga harus pinter, yang penting pinter-pinter aja,”. Untuk bahasan gimana mata kuliah atau apa aja yang dipelajari kayaknya lebih bagus diallogi bahas di episode lain waktu aja ya sobat.

 

Sebenernya masih banyak banget part yang belum tertulis disini, tapi rasanya ni tulisan kok udah lebih panjang dari rel kereta ya. Daripada-daripada nih kalau masih ada yang mau ditanyain, ada yang masih penasaran, atau ada yang masih ganjel dihati, komen aja sobat. Nanti dijawabin kok… Oke rasanya sekian dulu cerita untuk hari ini ya, see you…

(Sani Utami)

 

Bonus

Satu dari banyaknya moment yang dialami, potret ini rasanya ga akan pernah lupa deh. kejadiannya di tahun 2015 awal masa perkuliahan. Ceritanya nih manusia-manusia mau gowes ke salah satu tempat wisata di Kamang. Pergi pagi pulang menjelang petang dan ni kaki rasanya udah ga karuan sobat. Kesana ngapain? Jalan-jalan aja, ngisi waktu luang sembari  ngecek “Kamangnyo baraia atau indak,” dan ternyata waktu itu Kamangnyo sadang indak baraia guys… Dapat info dari temen-temen katanya kalau berair itu penampakannya kayak danau. Satu yang menarik, kalau musim penghujan biasanya emang jadi kering, tapi kalau musim kemarau malah terisi airnya. 

Read More

Selasa, 22 September 2020

Manusia Tempatnya Salah

September 22, 2020 0

 

Haii...

Gimana hari-hari kalian belakangan ini sobat? 

I hope you always fine.


Jadi gini, kali ini kita bakal ngomongin tentang salah atau kesalahan, berat gak sih? 

Ngebahas ini awalnya cukup ketampar sih, karena diri juga ga pernah terlepas dari kesalahan. Terlebih kalau mengingat dan semakin menyadari Maha baiknya Allah SWT. yang masih nyimpen keburukan bahkan kebusukan kita. Karena jika tidak, mungkin ga ada yang mau dekat dengan kita lagi ya, atau mungkin semua orang jijik, bahkan ada kemungkinan-kemungkinan buruk lainnya yang tak sanggup ku tuliskan disini.


Ya setiap kita pasti pernah salah atau ngelakuin kesalahan bukan? Dan kesalahan ini kerap menjadi penyakit bagi kebanyakan orang, terlebih ketika kepepet, termasuk diriku. Maksudnya penyakit? Iya gini, ketika bersalah ada banyak komponen yang juga berkontribusi dan terlibat, baik itu sebelum terjadinya kesalahan maupun setelahnya. Kesalahan bisa saja berawal dari ketidaktahuan, kekhilafan, kurang mawas diri, terlalu menyepelekan atau banyak faktor lainnya. Dan dalam hidup, kesalahan memang tak bisa dihindarkan, but its okay, kita bisa memperbaiki kesalahan itu dan terus berbenah. In other situations, kesalahan itu bisa menyebabkan kesalahan lain ataupun masalah setelahnya seperti berbohong, denial, ya lempar batu sembunyi tanganlah intinya. Bagian inilah yang kusebutkan sebagai penyakit. Tak sedikit orang yang terjebak karena ini, atau mungkin setiap kita malah pernah melakukannya ya? Jawabannya mungkin saja.


Menurutku hal terbaik yang bisa dilakukan untuk terlepas dari penyakit sebuah kesalahan itu adalah dengan berani jujur pada diri sendiri juga orang lain yang terlibat, mau menerima meski rasanya sakit, pedih, hancur tak karuan, malu, sesak, pokoknya segala hal tak mengenakkan, tapi dibalik itu ketika kamu mampu menerimanya, memaafkan, mau mengkomunikasikannya meski berat, bertanggungjawab atas apa yang terjadi karena keputusan kita, kamu hebat. Itu tandanya kamu berhasil mengalahkan egomu dan itu kamu lakukan bukan hanya untuk orang lain, tetapi juga demi kebaikan mentalmu, psikologis, serta kehidupanmu.


Merasa hina, marah atau sedih ketika berbuat kesalahan rasanya adalah hal yang wajar. Menyesali perbuatan yang keliru atau salah itu juga bukanlah kesalahan, asalkan tidak berniat untuk melakukan kesalahan yang sama berikutnya, dan lebih berhati-hati atas tindakan dan ucapan selanjutnya. 


So, setiap kita pernah salah kok. Ga usah merasa sendirian. Toh manusia emang tempatnya salah kan, tapi dengan itu manusia juga dibekali dengan akal pikiran untuk bisa berpikir, mengakui kesalahan, meminta maaf serta memaafkan, dan berbenah diri. Percayalah sobat, ga ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan hanya milik Allah. Meski sebagai manusia yang masih jauh dari kata sempurna, namun bukan berarti kita tidak bisa lebih baik bahkan lebih baik dari sebelumnya kan? 


Semoga kita  bisa terus menjadi manusia yang mau belajar dari kesalahan ya sobat.


Iyap, rasanya sekian dulu bahasan diallogi tentang "kesalahan"  ini ya. See you, dan tetap nantikan update'an diallogi selanjutnya... Love...


(Sani Utami)

Read More

Jumat, 18 September 2020

S. Psi . . . Alhamdulillah SAH | Part 1 Awalan dan Akhiran

September 18, 2020 3

Di awali dengan menyebut nama-Mu dan berterimakasih atas segala kisah yang engkau Ridhai dalam hidup ini.  Kepada Nabi Muhammad SAW. terimakasih telah menjadi Nabi kami dan menjadi rahmat bagi sekalian alam. 


Alhamdulillah, pada waktu itu (Juni, Juli, Agustus) 2015 Allah mengizinkan semua kejadian ini bermula. 


“Selamat anda dinyatakan lulus SNMPTN di UNP Jurusan Psikologi”.


 Berproses mengurus surat-menyurat , menyelesaikan administrasi, hingga akhirnya jadi mahasiswa baru. 


Kepada orang tua Bapak Marsidi dan Ibu Sultonah terimakasih telah mengizinkan anak gadismu ini merantau, terimakasih sudah percaya. 


Terimakasih kepada keluarga besar Pak Sumadi yang telah banyak membantu dan memberikan izin tinggal dirumah mbak Lia selama di Padang, kepada mas Tio yang telah mau menghantarkan pendaftaran ke UNP, kepada mas Nicko yang sudah mengenalkan dengan Putri dan menghantarkan ke Bukittinggi untuk mencari kos-kossan. Atas semua kebaikan itu, saya Sani Utami mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.


Terimakasih juga kuucapkan pada keluarga besar Pakde Iin dan Bude Aan karena telah menawarkan dan mengizinkan untuk ikut bepergian ke Padang dengan Mbak Via serta diperkenalkan dan diperbolehkan singgah dirumah saudara kalian.


Terimakasih kepada keluarga besar Bunda Anis yang sudah mau menampung diri, mengizinkan diri ini tinggal berbulan-bulan lamanya disana. Juga terimakasih buat dede.


Kepada teman-teman 8-sekawan dan lainnya yang dikabawetan, terimakasih atas segala support dan salam perpisahan kala itu. Sungguh sangat berkesan dan kalian luar biasa.


Untuk seseorang yang kala itu juga turut andil dalam proses, memberikan dukungan, terima kasih, arigatou.

 

Dan untuk semua orang berpengaruh lainnya pada waktu itu dan namanya tak bisa tersebutkan satu-persatu disini, terimakasih banyak.


Itu adalah awalan dimana semua ini dimulai, dan tanpa keseluruhannya hari ini bukanlah apa-apa.


Penuh syukur tiada kira hingga berada ditahap ini, sekali lagi terimakasih kepada ibu dan bapak karena sudah menyayangi, mendo’akan, mensupport, dan memberi uang jajan setiap bulan hingga akhirnya selesailah masa kuliah ini yang harusnya 4 tahun menjadi 5 tahun. Buk - Pak, maaf atas permintaan nambah uang jajan yang tak terkondisikan, dan maaf atas akhir yang sedikit terlambat ini, semoga kalian tetap bangga. 


Terimakasih kepada saudara-saudaraku yaitu abang Wandi Rahayu dengan keluarga serta adik Umi Andani yang selalu ada menemani ibu-bapak dirumah karena adik dan mbakmu ini sedang merantau di negeri orang, terimakasih sudah ada menjadi saudaraku, dan terimakasih atas segala rasa sayang dan do’a.


Kepada Bapak Rinaldi atau yang kerap disapa Pak Rei, terimakasih sudah menjadi pembimbing skripsi terbaik pak, juga terimakasih atas dukungan, kesabaran dan Maaf atas segala kengeyelan juga keras kepalanya sani yang haqiqi ini pak.


Kepada sahabat karib yakni teman susah seneng sama-sama jatuh kepada Mput (Putri Nusa), Adek REP, Apak Dimas Sembodo, selamat sudah mendapat kesempatan mengenal juga dekat dengan diri ini, dan tak lupa kuucapkan terimakasih telah menemani perjalanan panjang hingga hari ini. Kalian luar biasa.


Kepada sahabat-sahabat jauh di Kabawetan (Bengkulu) sana, yakni 8-sekawan dan teman lainnya yang tak bisa tersebutkan namanya satu-persatu, peluk hangat dari Bukittinggi. 


Penyelesaian Skripsi ini juga tak terlepas dari pembimbing bayangan yang bekerja dibalik layar seorang Sani Utami, Khususnya Fatahillah Hidayat. Terimakasih sudah menjadi tempat penjawab tanya atas segala tanya, terimakasih sudah sabar bahkan sangat sabar menghadapi diri yang penuh dengan segala embel-embel dan keriwehan yang melekat. Pada Pu3 (Putri Rahmah),  Mama Boti-Boti (Kak Resti)  dan Dhita terimakasih telah menjadi pemberi saran yang baik. Untuk Ibukkuh (Nurhidayati) terimakasih traktirannya…ehh. Makasih udah nemenin sebar angket waktu itu ya buk’eee..


Pada teman-teman lainnya yang juga turut andil sampai proses ini, dan Namanya tak bisa tersebutkan, terimakasih banyak sudah ingin direpotkam, kalian sangat membantu dan mendukung. 


Terakhir, kepada diri sendiri…

Terimakasih sudah kuat dan mau berjuang sejauh ini.

Kamu hebat Sani Utami, versi terbaik bagi dirimu sendiri.


Akhir Kata, Terimakasih Semuanya.

Salam,  Sani Utami


Read More

Jumat, 01 Mei 2020

Jangan Bosan, Terbiasalah Berbiasa

Mei 01, 2020 1
Januari, Februari, Maret, April dan Hari ini sudah Mei, namun entah mengapa keengganan ini masih juga terjaga.

Please...jangan berhitung lama kita tak berkabar, Jangan tanya berapa kisah yang terlewat, terima saja jikalau hari ini kukatakan sudah terlupa.

Tak perlu berharap lebih kehadiran kali ini, sebab aksara ini terangkai sebatas keinginan diri. So, berbahagialah jika perlu.

Memang, banyak kekhawatiran yang terjadi selama masa pandemi ini. Kewaspadaan dan ketakutan terangkai menjadi satu, begitupun dengan sepi, sedih, gelisah dan teman-teman seperjuangannya. Tapi tak juga dipungkiri bahwa ada banyak kebahagiaan baru yang tercipta. Jujur ini subjektif.

Awal pandemi dimana semua menyuarakan stay at home, work from home, dan hal-hal lainnya juga dilakukan di home, tak ada masalah. Sebab muasalnya diri ini sudah begitu, memegang identitas sebagai kaum rebahan. Tapi entah mengapa nuansanya sedikit berbeda. Terlepas dari itu, hal apa yang akan diri termasuk kamu lakukan selama masa pandemi agar terlepas dari kebosanan?

Waiting list terpampang.

Dan bahagian pertama adalah, membersihkan dan membereskan file-file lama yang jelas itu sampah. So delete, enter.
Namun ternyata, membuka folder lama dapat membuka ingatan-ingatan yang sempat tak berada ditempatnya. Beberapa adalah hal yang memang ingin kamu kenang, namun hal lainnya... Yah Syukuri sajalah, toh keberadaanmu saat ini juga terakit dari masa itu.

Kedua, adalah menjemput hobby lama yang tak pernah sempat dilakoni. Apa itu? menggambar. Perihal kamu diri ini belum tahu, jika ingin maka berceritalah, berbagilah.  Opsi kedua cukup menyenangkan, karena proses itu menghasilkan karya yang nyata, emosi terluapkan, ada keihlasan dan bonus torehan senyum ditambah rasa bangga yang dibumbui nano-nano. Iya, memang begitulah cara kerjanya.

Ketiga, membabu ria karena itu membuatmu sehat. Tak perlu bingung, akan diri ceritakan apa maksudnya setelah ini. Tak usah payah menunggu, begini maknanya: membersihkan rumah, membereskan lemari dan isi lemari, menyusun sepatu di rak sepatu, menghempaskan debu dari tumpukan buku-buku, menyusun jajanan khas cemilan, mencuci dan menghilangkan noda yang sudah masanya untuk dimusnahkan.

Keempat, diri ini termasuk kamu dapat berolah raga. Berjemur juga baik.

Kelima, mendukung opsi ketiga dan keempat dimana berkenaan dengan makan. Jadi kamu dapat mulai bereksperimen akan resep-resep yang terpampang di Instagram, youtube, tiktok dan media lainnya. Bebas dah, tapi ingat. Selain kenyang kamu harus tetap sehat dan baik-baik saja.

Keenam, memperbanyak ibadah.

Ketujuh, rebahan seutuhnya ditambah bonus mendengarkan podcast, streaming youtube maupun film, stalking doi atau mantan gebetan. Dijamin nagih. Jika tidak suka rebahan, duduk atau berdirilah sembari karakoean menghibur diri.

Kedelapan, membayar hutang baca buku yang sempat terabai. Jika ingin baca webtoon atau whatpadd juga boleh. Jika ingin mengenang dan membayar hutang teman yang sengaja dilupa juga bisa, karena membuat orang lain bahagia itu pahala kan?

Kesembilan, masih harus bekerja dan berbahagia. Tidak boleh stress terlebih sampai kelelahan. Jangan. Diri ini tak kuat melihatmu sakit.

Kesepuluh isilah berdasarkan apa yang kamu ingini, jangan melulu tentang diri ini.

Begitulah aktifitas akhir-akhir ini yang menjadi kesampaian dan harus terpenuhi. Sedikit melenceng dari kebiasaan itu biasa, sebab sekarang kita harus luar biasa. Berbicara perihal kebiasaan, untuk diketahui bersama bahwa menurut diri "Kebiasaan itu hanya tentang frekuensi dan durasi".
Ketika Frekuensi berkurang, durasi apa lagi, maka dijamin kebiasaan itu akan segera berubah.

So, terbiasalah berbiasa

Sani Utami.
Read More

Selasa, 18 Februari 2020

Banyaknya Kebaikan Dari Sebuah Durian

Februari 18, 2020 0
Hallo,
Untuk kalian para Diallogos yang sudah lama tak tersapa
Sudah rindu kah?
Kalau belum ayo merindu, biar rindu ini terjawab “Iya”.

12 Februari lalu, masih di 2020. Entah mengapa kebaikan yang satu ini ingin sebanyak-banyaknya selalu dikenang. Ingin rasanya untuk dibagikan. Iya, agar kalian semua tahu, kalau masih ada kebaikan yang seperti itu.

Oke,
Kejadiannya diawali dari sore hari sekitar pukul 16.00 lewat, cuacanya cerah waktu itu, karena tidak hujan. Atau malah gerimis ya? Ah anggap saja tidak. Bersama seseorang yang tersebut teman seperjuangan dan dia perempuan. Kami memutuskan untuk pergi ke pasar, namanya Pasar Bawah tempatnya masih di Bukittinggi. Kebanyakan orang ada juga menyebutnya Pasar Banto, pokoknya ke Pasar deh.

Tujuannya adalah berbelanja kebutuhan hidup seperti beras, sayuran, buah, jajanan, dan lauk pauk. Ah andainya memang seindah yang tersebut. Tapi intinya kami butuh makan untuk melanjutkan hidup dan butuh lebih untuk berjuang menyelesaikan tugas akhir sebagai mahasiswa.

Jarak tempat tinggal dengan pasar agaknya lumayan jauh, kalau jalan kaki sampai juga, namun capek. Duhh, mengeluh saja bisanya...bukan, bukan begitu, karena berhubung hari sudah sore bolehlah kami memutuskan untuk naik angkot kan. Bahkan jika hari masih pagi pun keputusan itu tak akan diri sesali sih.

Oh iya, rasanya perlu kuberitahu juga, untuk naik angkot dari kawasan Belakang Balok Itu biasanya ada mobil berwarna merah dan bernomorkan 15 didepannya. Rutenya sepanjang perjalanan hingga menuju tempat tujuan kami tadi, yaitu Pasar Bawah. Waktu itu isi angkotnya tidak terlalu penuh, nyaris sepi hingga yang tersisa hanya kami berdua sebagai penumpang dan bapak itu sebagai sopir. 
Disanalah cerita itu dimulai.
Sang bapak dengan usianya yang sudah tak muda, namun masih produktif untuk bekerja
Mengawali pembicaraan sederhana dengan “masih kuliah? Kuliah dimana nak?”
Dijawablah pertanyaan itu sebagaimana adanya. Hingga terciptalah dialog-dialog selanjutnya
Rincinya mungkin aku tak ingat, tapi intinya tentang kehidupan. Kehidupan rantau, anak koss, perjuangan, kisah itu sebagaimana juga terjadi padanya dan anaknya yang kini tengah berkuliah juga di nagari orang.

Sang bapak masih terus mengemudikan mobilnya, sembari berkisah tak lupa menengok kiri-kanan juga menyapa. Siapa tahu ada penumpang yang akan pergi ketempat tujuannya kan, ya sebagaimana rute angkot itu seharusnya lah. Dan beberapa mulai memenuhi isi angkot, pastinya dikursi penumpang, karna kursi sopirnya hanya satu, khusus untuk bapak itu saja. Kenapa? Ya karena bapak itu sopirnya.
Dihampir penghujung tujuan kami, sebagaimana yang kusangka pasti akan ada pemandangan indah seperti ini. Apa itu? “tumpukan durian, semobil isinya durian, orang makan durian, sejenis itulah” dan sedihnya diri hanya melihat dan numpang lewat. Hari berganti hari terus saja begitu.

Eitsss, perlukah diri ini ungkapkan bahwa sudah lama rindu Durian dan ingin Durian, tapi belum pernah kesampaian. Karena lalu, harganya masih mahal untuk ukuran yang terbilang tidak besar. Tapi ingin, dan jadinya tertahan.

Karena ada begitu banyaknya onggok-onggok Durian, diri pun bertanya dengan sang Bapak.
“Kira-kira berapa harga durian sekarang ya pak?”. Aihhh padahal ada kata durian yang kecil waktu itu, tapi malu mau dibilang. Dan entah mengapa juga waktu itu kutanyakan dengan sang Bapak, padahal bapak adalah Sopir bukan penjual Durian.

Syiaaaatttttt....
Dengan segera bapak tetiba memelankan laju angkotnya, kemudian menyapa penjual Durian yang ternyata orangnya bapak kenali. Bapak penjual Durian pun langsung menyambut sapaan itu, dan sekejap memberikan sebuah Durian kepada sang Bapak dengan meletakkannya dalam angkot. Para penumpang pun tampak bahagia, padahal tidak dikasih Durian. Apalagi sang  Bapak yang diberi Durian? Ya senang juga donggg... Bau Duriannya lagi harum, ada dimakan Tupai sedikit, yang kata bapak sopir itu kalau Durian dimakan Tupai pasti enak, manis. Entah benar atau tidak teori itu, diri juga tidak tahu. Yang pasti diri masih senang menyaksikan sebuah Durian.

Dialog per dialog masih berlanjut dengan sang Bapak, hingga akhirnya kami memutuskan berhenti dan turun lantaran sudah sampai tujuan. Sang Bapak mengiyakan, tak lupa kami bayar dan Bapak bilang “nanti pulangnya naik ini lagi ya...” kami pun mengiyakan dengan tawa ringan. Sang bapak berlalu dengan angkotnya menghantarkan penumpang lain ke tempat tujuan mereka masing-masing. Kami pun melanjutkan aktivitas kami, membeli A kemudian B, hingga C, D dan E lalu uang pun habis, tinggal tersisa untuk angkot selanjutnya. Jika sudah demikian, mau bagaiamana lagi, ya harus kembali kan.

Lalu kami berjalan dengan tas belanjaan masing-masing, menuju dan mencari angkot merah yang bertuliskan 15. Mengapa? Karena ada salah satu rute yang dilalui itu dekat tempat tinggal kami. Sungguh, diri sudah lelah menjelajah pasar sayur itu. Tak ada tenaga lebih untuk menantikan angkot sang Bapak tadi, kepikiran saja tidak. Kemudian ibarat kejutan, Terereng-terereng....kami menaiki angkot sang Bapak kembali. Sungguh tak disangka, rupanya lama kami berbelanja sama dengan rute angkot itu satu putaran. Kami pun tertawa, antara lucu dan berpikir kok bisa yaa. Ah rezeki memang tidak kemana kan Diallogos?

Dialog perdialog mulai terbangun lagi, bahasannya masih semanis Durian itu. Manis katamu? Mencoba pun belum. Percayalah, diri ini tahu dari penampakan dan baunya, meski kami sebenarnya cukup asing akhir-akhir ini. 2 belokan lagi, mungkin dialog dan pertemuan ini akan segera berakhir, karena tujuan untuk kembali kerumah “kontrakan” sudah dekat. Dengan hal yang diri ini tak sangka-sangka, Bapak mengikhlaskan Duriannya.

Sang Bapak bilang “Bisa buka Durian sendiri?” meski tak sering melakukannya tapi diri ini pernah. Terjawablah pertanyaan itu “bisa  pak, sudah pernah sebelumnya”. Dan lagi, terereng terereng... Sang Bapak mengkihlaskan Duriannya untuk diri, “MasyaAllah. Ini beneran pak?” ujar diri. “iya beneran, rezekinya adek. Memang sudah niat. Tadi kan bilang naik angkot ini lagi, dan beneran kan jadi naik angkot ini lagi. Dan selama tadi  ngobrol-ngobrol keinget sama anak yang jauh, mungkin dia juga lagi pengen Durian. ” jawab sang Bapak. “MasyaAllah, terimakasih banyak bapak” ucap diri yang tengah bahagia ini.

Bagaimana tidak, Diri yang sudah merindu lama dengan Durian, atas kejadian itu pun senang bukan kepalang. Tampak torehan senyum dari sang Bapak, dan diri pun jadi mesam-mesem juga. Terimakasih sebanyak-banyaknya terimakasih itu diri ucapkan kepada sang Bapak. Pas kami bertemu persimpangan, pertemuan itupun harus kembali berakhir, bapak pun mengiyakan. Tak lupa diri ini ucapkan Syukur dan semoga Sang Bapak panjang umur, sehat terus, dimudahkan rezekinya dan dijauhkan dari segala hal yang buruk.
Rezeki itu datang memang atas izin Allah, sesederhana itu kita pernah meminta, semewah itu Allah berikan. Kebaikan sore waktu itu semoga Allah balas dengan kebaikan lainnya ya Pak.

Pak, sekali lagi terimakasih. Meski sekarang Duriannya sudah habis bahkan kulitnya juga entah kemana, tapi untuk ketahuilah bersama bahwa manisnya masih terasa sampai sekarang, baunya masih semembahagiakan itu. Percayalah, kebaikan itu memang indah.

Salam hangat, Diallogi.
(Sani Utami)

Read More

Kamis, 14 November 2019

Bahagian Awal_

November 14, 2019 5

Aku Berbahasa Sebagaimana Rasa...


Ceritanya mungkin saja menjadi tidak jelas, namun disanalah nikmat indahnya. Jadi begini..., seperti itu..., ah entahlah harus dengan awalan yang bagaimana semestinya. Aku tahu, fisrt impression dalam sebuah pertemuan itu penting, tapi tak melulu tentang sajak manja atau menggombal ria bukan ? begitupun saat ini, perkenalan diantara kita. Jujur, aku malu dan tidak tahu menghadapimu bagaimana, hadirmu terasa istimewa saja.
Disini, rentetan kata akan membimbingmu menjajaki setiap rasa, setiap kisah yang akan terurai menemani waktu baca dan segala keberkahan yang InsyaAllah selalu ada pada kamu. Ketahuilah wahai pembaca kata-kataku, tiada satupun firman yang mengharuskan untuk membaca ini. Akan tetapi jika kamu penasaran dengan segala keabsurd’an yang akan tersaji, silahkan lanjutkan dan selesaikan apa yang tengah atau akan kamu kerjakan itu.
 Caraku berbahasa menyampaikan setiap rasa, mungkin akan sangat berbeda dengan caramu. Tapi ingat, kita sama-sama mempunyai rasa, macamnya beraneka ragam, hanya bagaimana cara mempersepsikannya saja yang berlainan. Aku tak mewajibkan setiap kamu dapat mengambil makna atau pelajaran dari coretan yang sebagian besar tidak penting ini. Untuk pembukaan cukup baca sajalah dulu. Namun, jika ternyata dikemudian hari itu dapat bermanfaat bagi kamu, Alhamdulillah. Hadiah luar biasa untuk diriku. Jika tidak, tinggalkan saja, tak mengapa. Pesanku jangan lupa do’akan, agar aku tetap kuat mengarungi rasa tanpa hadirnya kamu yang teristimewa.

Akhir kata,
Salam kenal penikmat rasa
Dalam kisah yang tengah aku coba bahasakan ^_^

Semoga kamu betah.

Read More

Post Top Ad

<>