Diallogi

HEADLINE

Post Top Ad

<>

Kamis, 15 Oktober 2020

S. Psi . . . Alhamdulillah SAH | Part 3 Kisah-Kasih Skripsian

Oktober 15, 2020 0

Sumber Kompasiana.com
Haii…Tanpa basa-basi lagi untuk part yang terakhir ini karena nunggunya cukup lama, cus langsung aja kita awali sobat.


 Jadi dipenghujung masa kuliah waktu itu pro dan kontra dalam diri mulai menyelimuti. Rasanya masih terlalu dini untuk melepaskan status sebagai mahasiswa Psikologi UNP, rasanya masih terlalu banyak kegiatan yang belum tercapai sewaktu menjadi mahasiswa, rasanya bekal yang dimiliki juga belum cukup untuk mengakhiri kisah sebagai mahasiswa, dan pokoknya masih banyak rasa-rasa lainnya yang membuat berat untuk meninggalkan status sebagai mahasiswa.


 Ditambah keseluruhannya seakan diperkuat karena berbagai musibah seperti HP yang hilang, lalu kemudian laptop yang rusak sehingga menghambat proses pengerjaan tugas akhirku. Hanyakah alasan? Entahlah…


 Yang pasti sebab itu, otakku berpikir keras untuk berkegiatan terlebih menghasilkan. Iyap, bekerja. Lalu pertanyaan selanjutnya mau kerja apa? Jawaban diri ini bebas, yang penting kerja.

 

Setelahnya, mulai kulakukan riset loker-loker yang tersedia dimedia sosial dan pilihanku waktu itu jatuh pada 2 hal, namun yang terlaksana hanya 1 hal yaitu BAZNAS Kota Bukittinggi. Tak masalah, kalau rezeki ga kemana kok.

 

Melewati proses menghantarkan surat lamaran kerja, lulus seleksi administrasi, tes tertulis, kemudian lulus tes tertulis, wawancara, lulus tes wawancara, hingga akhirnya sah bekerja di BAZNAS dengan masa kontrak 3 bulan.

 


Semua berlalu, hingga waktunya diri berpikir untuk pulang. Ya pulang kembali ke tanggung jawab awal yaitu menyelesaikan studi sebagai mahasiswa. Karena rumah (kampus, perkuliahan dan bimbingan) sudah begitu lama terabai, dan kini sudah tiba waktunya untuk mengakhiri.

 

Di awali dengan HP baru, kemudian laptop baru (walau second), dan Bismillah berangkat dengan judul baru untuk menemui pembimbing. Mungkin setengah tahun tak bersua membuat ketakutan dalam diri ini memuncak. Jujur, memulai itu berat kawan. Terlebih kebanyakan teman satu angkatan sudah banyak yang bergelar, sedang diri masih masih sibuk untuk memulai. Namun setelah dipikir-pikir, bodo amat juga dengan orang lain. Karena jalan wisuda setiap orang itu berbeda, dan tiap kita punya cerita.

 

Satu bulan lamanya mencari fenomena, menetapkan judul, mencari dan membaca referensi, mengumpulkan bahan, hingga membuat latar belakang awal yang selesai pada akhir Agustus 2019 serta siap untuk diajukan kembali pada pembimbing.

 

Untuk sekedar kalian tahu pembimbingku adalah pak Rinaldi, S. Psi., M. Si. atau kerap disapa pak Rey. Dimana tiap bimbingan dengannya yang wajib dibawa adalah jurnal penelitian, jurnal lagi dan jurnal terus. Awalnya agak sedikit pesimis tapi juga optimis untuk menemui beliau dan berharap dalam waktu dekat bisa segera acc sempro.

 

Kenapa pesimis? Harusnya kamu sudah tahu, hampir setengah tahun lamanya tak pernah bimbingan, judul lama terasa usang dan terbuang, lalu sok-sok’an mulai dengan yang baru. “Gamasalah… lanjut aja san…,” semangat dalam diri.

 

Sambutan yang tak disangka, memulai beberapa proses kemudian judul diterima, lanjut BAB I, BAB II, BAB III dan September 2019 akhir, acc sempro didapatkan. Emang ga pernah nyangka dapat pembimbing sebaik ini dan support mahasiswa banget.

 

Alhamdulillah dengan kurang lebih sebulan berjuang menyusun proposal berakhir manis. Senengnya minta ampun dong. Pokoknya seneng banget meskipun baru sempro doang.

 

Cuss… daftar sempro, butuh waktu 2 minggu menunggu untuk hari yang ditunggu-tunggu. Selasa 15 Oktober 2019, waktu itulah momentnya untuk menebus rindu presentasi karena sudah lama sekali tidak pernah melakukannya lagi. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar dan lulus dengan sedikit revisi. BTW pengujiku saat itu adalah ibu Devi dan ibu Tari.

 

Perjalanan revisi pasca sempro pun dijalani. Usai revisian, mulailah disibukkan dengan penyusunan alat ukur. Percayalah, proses ini banyak banget ilmu yang didapetin tapi ga ada mata kuliahnya. Harus sabar, menghargai waktu, tahan ego, mau mendengarkan orang lain, dan pokoknya banyak lagi.

 

Setelah berbulan-bulan lamanya datanglah Januari 2020. Fix alat ukur, uji coba alat ukur hingga akhirnya penelitian. Penelitianku dilakukan disalah satu SMP di Kota Bukittinggi, waktu itu juga dihadapkan dengan orang-orang yang luar biasa banget baiknya seperti pak Bobby, buk Des, dan buk Nel. Jujur mereka welcome banget dan ngebantu penelitianku sampai akhir. Kepada pihak SMP 3 Bukittinggi dan kepada para siswanya yang juga kece-kece dan seru-seru makasih banyak ya… salam dari saya Sani Utami…

 

Februari selesai penelitian dan juga olah data. Kemudian mulai menyusun BAB IV dan V hingga awal maret. Di bulan yang sama juga mengharuskan diri untuk mulai bimbingan kembali dengan pembimbingku. Revisi dan revisi lagi, sampai kemudian Corona (Covid-19) datang dan menghambat proses bimbingan. Menghambat? Kan bisa online.

 

Iyap, memang kemudian bimbingan dilakukan secara online dan syukur Alhamdulillah direstui untuk sidang skripsi. Wah seneng lagi dong… kali ini beneran detik-detik sampai finish. Terimakasih diri udah sekuat dan seberjuang ini.

 

Rabu, 20 Mei 2020  sidang skripsi pun akhirnya terlaksana ditengah-tengah masa pandemi seperti ini. Ada yang berbeda dan tak seperti biasanya yang langsung bertatap muka, melainkan kami dipertemukan lewat layar zoom dengan pembimbing dan kedua penguji yang siap menguji skripsiku. Terimakasih sudah meluangkan waktunya bapak dan ibu.

 


Dihari itu juga S. Psi sudah didapatkan namun belum dipestakan saja dengan acara wisuda yang jatuh tempo pada 21 Juni 2020 dan akan dilaksanakan secara virtual juga. Sedikit kecewa, tapi ya nikmati aja, ambil hikmahnya. Mungkin benar agak terdengar miris, upacara yang kebanyakan mahasiswa impikan, sakralnya, terlebih diri ini 5 tahun kuliah dan diakhiri dengan begitu saja. Dari pagi mantengin zoom eh tiba-tiba udah resmi jadi alumni aja. Hehee, ga apalah, terima saja. Intinya satu, harus tetap bersyukur.

 


Kupikir proses ini juga menjadi salah satu trigger dalam hidupku. Terlambat wisuda bukanlah plan yang aku ingini, bukan juga target perjalanan hidup yang tertulis dalam harapku. Terlebih berada dititik ini bukan hanya tentang diri, tapi juga orang tua. Pernah ada rasa malu Sani gagal lulus 4 tahun, ada masanya iri melihat postingan teman yang sedari dulu sibuk dengan toga terlebih karirnya. Sedang diri masih merasa stagnan, terjebak dengan situasi. Tapi dilain sisi, berkat titik ini juga banyak hal-hal luar biasa yang singgah dan patut untuk aku syukuri. Mungkin saja jika seorang Sani lulus 4 tahun kejadian-kejadian itu ga akan pernah dialami, dan belum tentu juga akan menjadikan sosok Sani seperti saat sekarang ini.

 

Ya, seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, “Jalan wisuda orang itu beda-beda, dan setiap kita akan punya cerita menarik dibalik ini,”. Pada titik tertentu, mungkin kamu akan paham maksudnya apa. (Sani Utami)

Read More

Selasa, 29 September 2020

S. Psi . . . Alhamdulillah SAH | Part 2 Sepenggal Kisah Perkuliahan di Psikologi UNP

September 29, 2020 0


Jeng jengg…

Eh ketemu lagi, hallo hai…

Mungkin beberapa episode kedepan, ceritanya masih dalam rangka memperingati Sahnya S. Psi. Penting ga penting sih sebenarnya, tapi ini adalah bentuk apresiasi diri, mengenang masa dimana semuanya itu butuh  diperjuangkan. Mungkin akan banyak yang terlewat, lolos dari seleksi, tapi kisahku, kisah ini rasanya sudah cukup menghibur diri. So, berharap kalian para sobat-sobatku sekalian pada kepo ya. Biar rame, dan Diallogi makin semangat buat update lagi, lagi dan lagi… hehee… kuyy capcuss…

 

Awal masa perkuliahan tepatnya di Tahun 2015 bulan Agustus, dan artinya banyak hal baru bermula disini. Kehidupan anak koss misalnya, maknanya pun belum kupahami apa, namun sudah sangat melekat sedari dini.

Oke sobat, daripada bingung disini akan kuceritakan sepenggal kisahnya, perihal apa itu anak koss:

- Kehidupan anak koss adalah bentuk kehidupan baru dimana mau apa-apa urus sendiri.

- Dahulu bangun tidur ditandai dengan suara Ibu namun kemudian tergantikan dengan alarm HP.

-Dahulu sebelum kesekolah hidangan sarapan sudah siap tersaji, namun kemudian tiba-tiba itu menghilang.

-Dan Dahulu segala kebutuhan seperti kebutuhan alat mandi, detergen, sudah tersedia dirumah, dan setelahnya terganti dengan kalimat “urus sendiri” hahaha…

 

Semiris itukah kehidupan anak kos??? Ya bisa diakui iya, tapi kadang-kadang  aja kok sobat, kadang-kadang dalam artian yang fiktif tapi ya. Wkwk

Meskipun demikian, dengan sendiri mengajarkan kita menjadi mandiri loh, dan asal kalian tahu semuanya yang terjadi itu adalah ilmu. Dimanapun berada, dan bagaimanapun kita, yang   namanya proses adaptasi itu penting sobat.

 


Oh iya, asal kamu tahu kalau dikampus Psikologi UNP yang berlokasi di Belakang Balok, Bukittinggi, Sumatera Barat ini lingkupnya kecil, karena kampus ini merupakan salah satu kampus cabang. Tak heran jika kekeluargaan disini sangat dijunjung erat. Oleh karena itu, tuntutan untuk saling mengenal satu sama lain terlebih dengan “senior” sangat ditekankan.

 

Namun apalah daya dengan diri ini yang terlalu banyak malasnya waktu itu. Mengapa? Ya karena rasanya percuma aja gitu, kenalan hari ini besoknya dah lupa. Jadi, tolonglah pahami ingatan yang tidak seberapa ini…hehehe

Oh iya, BTW dalam 2 atau 3 tahun terakhir ini kampus psikologi sudah ada kok yang di Padang, jadi mahasiswanya dibagi dua tuh, sebagian ada yang di kampus Bukittinggi dan sebagian lagi ada yang di kampus Padang.

 

Balik lagi kecerita tadi, hari berganti hari, kadang dinanti kadang juga berharap untuk berhenti. Loh ada apa? Entahlah, terkadang diri hanya ingin mengatakan Lelah.

 

Tetapi berkat konflik dengan masalah mengenal senior ini, akhirnya mendorong otak untuk terus berotasi. Rasanya akan lebih menyenangkan mengenal seseorang lebih dalam meski sedikit daripada mengenal banyak orang dengan ikatan yang sangat dangkal. Itu menurutku loh ya, tidak tahu dengan kamu.

 

Untung saja waktu itu di Kampus Psikologi UNP menyuguhkan begitu banyak komunitas-komunitas yang cukup menarik. Dari berbagai pengenalan komunitas waktu itu, akhirnya diri memutuskan untuk jatuh pada komunitas KATARSIS (kumpulan orang-orang teatrikal) dan Psikopers (Ini seperti persnya anak psikologi dalam lingkup mini). Lalu rasanya ada juga ikut komunitas Bahasa Inggris namun hanya sebentar, dan entrepreneur club yang tidak lama.

 

Dari keseluruhan yang dijalani, semuanya punya cerita dan menemani segala proses hingga kini. KATARSIS contohnya, lingkupnya memang tak terlalu besar namun kekeluargaannya begitu terjaga. Disana aku mulai mengenal sosok nek uyut (sapaan untuk kak Nurul), apak (sapaan untuk Bang Dimas), abah (sapaan untuk bang Habib), kemudian ada bang Emo, bang Ilham, kak Uci, kak Mala, ka Gita, kak Fina, teteh, mpit, adek, mput dan teman-teman lainnya yang tak bisa tersebutkan disini.


Selain tergabung dalam club ataupun komunitas, rasanya kalau ga ada temen deket tu masih ada yang kurang-kurang gimana gitu yaa… Untung untuk kesekian kalinya disini aku juga punya sedikit manusia-manusia yang selalu hadir dalam suka dan duka, menampung cerita yang aneh-aneh, dan melakukan hal yang aneh-aneh pula. Iya, mereka adek sama mput. Hehe



Kalau dalam urusan pembelajaran, awalnya agak kaget sih. Karena emang beda banget sama masa SMA. Sedikit keteteran sih waktu itu, tapi over all masih bisa dinikmati dan ok aja. Kalau saran dari para senior tuh katanya gini “kuliah tu ga harus pinter, yang penting pinter-pinter aja,”. Untuk bahasan gimana mata kuliah atau apa aja yang dipelajari kayaknya lebih bagus diallogi bahas di episode lain waktu aja ya sobat.

 

Sebenernya masih banyak banget part yang belum tertulis disini, tapi rasanya ni tulisan kok udah lebih panjang dari rel kereta ya. Daripada-daripada nih kalau masih ada yang mau ditanyain, ada yang masih penasaran, atau ada yang masih ganjel dihati, komen aja sobat. Nanti dijawabin kok… Oke rasanya sekian dulu cerita untuk hari ini ya, see you…

(Sani Utami)

 

Bonus

Satu dari banyaknya moment yang dialami, potret ini rasanya ga akan pernah lupa deh. kejadiannya di tahun 2015 awal masa perkuliahan. Ceritanya nih manusia-manusia mau gowes ke salah satu tempat wisata di Kamang. Pergi pagi pulang menjelang petang dan ni kaki rasanya udah ga karuan sobat. Kesana ngapain? Jalan-jalan aja, ngisi waktu luang sembari  ngecek “Kamangnyo baraia atau indak,” dan ternyata waktu itu Kamangnyo sadang indak baraia guys… Dapat info dari temen-temen katanya kalau berair itu penampakannya kayak danau. Satu yang menarik, kalau musim penghujan biasanya emang jadi kering, tapi kalau musim kemarau malah terisi airnya. 

Read More

Jumat, 25 September 2020

Mengapa Kita Bisa Merasa Lapar dan Kenyang?

September 25, 2020 2

Hey kalian-kalian teman seperjuangan... 
pernah gak sih pergi berkegiatan terus lupa makan? Lalu dipertengahan kegiatan itu perut kalian berbunyi seakan berteriak “beri aku makan sekarang, berikannn, ayo berikan”. Ah rasanya tidak selebay itu kan ya. Tapi ngomong-ngomong, kok bisa ya kita ngerasa lapar?

Jadi gini sobat, ada beberapa alasan mengapa kita bisa merasakan lapar, yang pertama adalah karna adanya “Sinyal dari Lambung”. Ceritanya pada sekitar tahun 1912 ada Walter Canon dan A.L. Wishburn yang melakukan eksperimen  untuk mengungkapkan asosiasi antara kontraksi perut dan rasa lapar. Nah dari berbagai eksperimennya ini, mereka menyimpulkan bahwa timbulnya rasa lapar adalah akibat dari aktivitas dalam lambung.

Yang kedua adalah karna adanya senyawa kimia dalam darah sobat. Senyawa-senyawa tersebut adalah glukosa, insulin dan leptin.

Para sobat semua rasanya udah pada tahu ya kalau glukosa atau gula darah itu merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi rasa lapar. Karena apa coba? Karena dia? Duh bukannn... tapi karena otak mendapatkan energinya dari sana. Jadi ga heran juga kan, kadang kalau lagi belajar cepat betul ngerasa laparnya, dan salah satu alasannya ya itu tadi sobat. Kalau insulin tahu kan ya, iyaa yang ngatur kadar gula darah, jadi yang gula darahnya berlebih tuh bakalan disimpen di sel- sel sebagai lemak karbohidrat. Itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa saat seseorang mendapat suntikan insulin akan merasakan rasa lapar bahkan sangat lapar karena kadar gulanya tadi diturunkan secara drastis. Dan senyawa yang berikutnya adalah leptin yang berhubungan sama rasa puas, dimana saat protein dilepaskan oleh sel-sel lemak maka akan menurunkan jumlah makanan yang diambil dan meningkatkan pengeluaran energi. Oh iya sobat, kadar konsentrasi leptin ini juga biasanya dikaitkan dengan berat badan loh, dan para peneliti juga tertarik untuk melihat lebih jauh, apakah gangguan pada leptin ini dapat menjelaskan obesitas yang terjadi pada seseorang.

Lalu apa untungya sih kita tahu ini? Ya setidaknya kita jadi tahu dan bisa mengontrol apa yang harus kita makan sobat,  karena akhirnya hal tersebut akan berpengaruh pada perilaku makan kita. Sebagaimana Judith Cohen menyatakan ketika kita makan seperti karbohidrat kompleks kayak sereal, roti, maka insulin akan meningkat, namun kemudian juga akan menurun secara bertahap. Maksudnya gini, sehingga saat kita mengonsumsi makanan dengan gula sederhana seperti permen, minuman manis, maka iya insulin akan meningkat namun juga akan langsung menurun dengan cepat. Loh kenapa? Ya kan itu Cuma gula sederhana dan bukan karbohidrat kompleks. Konsekuensinya adalah, itulah yang membuat kita merasa lapar lagi dan ingin makan lagi dalam waktu yang cepat. So, kesimpulannya adalah apa yang kita makan pada satu waktu tertentu akan mempengaruhi seberapa banyak kita akan makan pada waktu berikutnya.

Terakhir yang bisa mempengaruhi rasa lapar atau kenyang yaitu adanya proses-proses dalam otak. Ada yang masih ingat dengan pelajaran biologi tentang bagian otak mana yang mengatur tentang nafsu makan? Termasuk juga rasa lapar? Iyapp sobat, jawabannya Hipotalamus. Spesifiknya, ada dua wilayah dalam hipotalamus yang membahas akan hal ini. Pertama, Hipotalamus lateral yang terlibat untuk meransang kita menyantap makanan, atau memunculkan gairah kita untuk melakukan aktivitas yang namanya makan saat lapar. Kedua, Hipotalamus ventromedial yang terlibat ketika kita sudah merasa kenyang dan mengakhiri rasa lapar, sehingga saat kita sudah makan maka rasa lapar perlahan akan mulai berkurang dan kemudian memunculkan sinyal untuk membatasi makanan yang ingin kita makan. Bahkan dikatakan pula nih sobat, kalau otak tidak hanya menerima pesan tentang seberapa kita kenyang, tetapi juga perihal seberapa banyak kandungan gizi dalam makanan yang kita makan. Jadi itulah alasannya mengapa saat kita menyantap makanan yang kaya nutrisi akan membuat kita cepat merasa kenyang (menghentikan rasa lapar) sama halnya dengan saat kita mengkonsumsi air.

Apakah hanya itu? Emm beberapa ahli sih bilang sobat kalau ada bagian lain dari otak yang juga berperan dalam rasa lapar, sehingga mereka mencoba melihat lagi tuh, menelisik lebih dalam untuk mengetahui apakah neurotransmiter (senyawa kimia yang membawa informasi dari satu saraf ke saraf lain) dan sirkuit saraf (kelompok saraf yang terlibat dalam bagian otak) memang berperan akan hal ini.

Karakteristik Perilaku Makan
Diyakini atau tidak sih sobat, kadang ada beberapa faktor yang membuat kita ingin terus makan, makan banyak atau malah sedikit makan dan tidak makan sama sekali. Masih ragu? Coba deh kita refleksi ya, kalian pernah galau? Sedih putus cinta? Stress karna banyak tugas? Lalu apa yang biasanya kalian lakukan? Iya diantara banyak hal, salah satunya adalah makan kan?  Makan coklat, ice cream, dan banyak makanan enak lainnya dengan niat ingin meremajakan diri untuk menghilangkan kegalauan, stress atau sedih. Namun tak jarang disamping kesemuanya itu, juga membuat kalian malah tidak berselera untuk makan. Ya memang begitulah cara kerjanya, manusia itu kompleks sobat, sehingga untuk satu bagian saja seperti ini (keadaan emosional) dapat mempengaruhi perilaku lainnya yang akan kita lakukan.

Tidak hanya itu, adanya faktor kognitif dan budaya juga ikut mempengaruhi tentang bagaimana perilaku makan kita lohh. Ga percaya? Contohnya aja gini, kita kan sering tuh ya mengasosiasikan makanan dengan tempat dan waktu seperti saat sedang melakukan aktivitas menonton atau sedang kumpul bersama dengan orang-orang terdekat. Kita akan merasa ada yang kurang jika menonton tidak sambil makan, tidak sambil mengunyah, tidak sambil ngemil lah pokoknya, begitupun saat acara kumpul-kumpul, rasanya ada yang beda aja kalau ga makan atau ga ada sambilan makannya.

Iya atau iya? Nah dari beberapa faktor yang disampaikan diatas, itu bisa digunakan untuk menjelaskan atau menjawab pertanyaan mengapa sampai ada orang yang obesitas atau malah sampai mengalami gangguan dalam makan. Dan dipenghujung kata, sekian dulu bahasan soal lapar, kenyang dan perilaku makan ini ya sobat. Sampai jumpa di edisi lainnya. Bye-bye... (Sani Utami)
Read More

Selasa, 22 September 2020

Manusia Tempatnya Salah

September 22, 2020 0

 

Haii...

Gimana hari-hari kalian belakangan ini sobat? 

I hope you always fine.


Jadi gini, kali ini kita bakal ngomongin tentang salah atau kesalahan, berat gak sih? 

Ngebahas ini awalnya cukup ketampar sih, karena diri juga ga pernah terlepas dari kesalahan. Terlebih kalau mengingat dan semakin menyadari Maha baiknya Allah SWT. yang masih nyimpen keburukan bahkan kebusukan kita. Karena jika tidak, mungkin ga ada yang mau dekat dengan kita lagi ya, atau mungkin semua orang jijik, bahkan ada kemungkinan-kemungkinan buruk lainnya yang tak sanggup ku tuliskan disini.


Ya setiap kita pasti pernah salah atau ngelakuin kesalahan bukan? Dan kesalahan ini kerap menjadi penyakit bagi kebanyakan orang, terlebih ketika kepepet, termasuk diriku. Maksudnya penyakit? Iya gini, ketika bersalah ada banyak komponen yang juga berkontribusi dan terlibat, baik itu sebelum terjadinya kesalahan maupun setelahnya. Kesalahan bisa saja berawal dari ketidaktahuan, kekhilafan, kurang mawas diri, terlalu menyepelekan atau banyak faktor lainnya. Dan dalam hidup, kesalahan memang tak bisa dihindarkan, but its okay, kita bisa memperbaiki kesalahan itu dan terus berbenah. In other situations, kesalahan itu bisa menyebabkan kesalahan lain ataupun masalah setelahnya seperti berbohong, denial, ya lempar batu sembunyi tanganlah intinya. Bagian inilah yang kusebutkan sebagai penyakit. Tak sedikit orang yang terjebak karena ini, atau mungkin setiap kita malah pernah melakukannya ya? Jawabannya mungkin saja.


Menurutku hal terbaik yang bisa dilakukan untuk terlepas dari penyakit sebuah kesalahan itu adalah dengan berani jujur pada diri sendiri juga orang lain yang terlibat, mau menerima meski rasanya sakit, pedih, hancur tak karuan, malu, sesak, pokoknya segala hal tak mengenakkan, tapi dibalik itu ketika kamu mampu menerimanya, memaafkan, mau mengkomunikasikannya meski berat, bertanggungjawab atas apa yang terjadi karena keputusan kita, kamu hebat. Itu tandanya kamu berhasil mengalahkan egomu dan itu kamu lakukan bukan hanya untuk orang lain, tetapi juga demi kebaikan mentalmu, psikologis, serta kehidupanmu.


Merasa hina, marah atau sedih ketika berbuat kesalahan rasanya adalah hal yang wajar. Menyesali perbuatan yang keliru atau salah itu juga bukanlah kesalahan, asalkan tidak berniat untuk melakukan kesalahan yang sama berikutnya, dan lebih berhati-hati atas tindakan dan ucapan selanjutnya. 


So, setiap kita pernah salah kok. Ga usah merasa sendirian. Toh manusia emang tempatnya salah kan, tapi dengan itu manusia juga dibekali dengan akal pikiran untuk bisa berpikir, mengakui kesalahan, meminta maaf serta memaafkan, dan berbenah diri. Percayalah sobat, ga ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan hanya milik Allah. Meski sebagai manusia yang masih jauh dari kata sempurna, namun bukan berarti kita tidak bisa lebih baik bahkan lebih baik dari sebelumnya kan? 


Semoga kita  bisa terus menjadi manusia yang mau belajar dari kesalahan ya sobat.


Iyap, rasanya sekian dulu bahasan diallogi tentang "kesalahan"  ini ya. See you, dan tetap nantikan update'an diallogi selanjutnya... Love...


(Sani Utami)

Read More

Jumat, 18 September 2020

S. Psi . . . Alhamdulillah SAH | Part 1 Awalan dan Akhiran

September 18, 2020 3

Di awali dengan menyebut nama-Mu dan berterimakasih atas segala kisah yang engkau Ridhai dalam hidup ini.  Kepada Nabi Muhammad SAW. terimakasih telah menjadi Nabi kami dan menjadi rahmat bagi sekalian alam. 


Alhamdulillah, pada waktu itu (Juni, Juli, Agustus) 2015 Allah mengizinkan semua kejadian ini bermula. 


“Selamat anda dinyatakan lulus SNMPTN di UNP Jurusan Psikologi”.


 Berproses mengurus surat-menyurat , menyelesaikan administrasi, hingga akhirnya jadi mahasiswa baru. 


Kepada orang tua Bapak Marsidi dan Ibu Sultonah terimakasih telah mengizinkan anak gadismu ini merantau, terimakasih sudah percaya. 


Terimakasih kepada keluarga besar Pak Sumadi yang telah banyak membantu dan memberikan izin tinggal dirumah mbak Lia selama di Padang, kepada mas Tio yang telah mau menghantarkan pendaftaran ke UNP, kepada mas Nicko yang sudah mengenalkan dengan Putri dan menghantarkan ke Bukittinggi untuk mencari kos-kossan. Atas semua kebaikan itu, saya Sani Utami mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.


Terimakasih juga kuucapkan pada keluarga besar Pakde Iin dan Bude Aan karena telah menawarkan dan mengizinkan untuk ikut bepergian ke Padang dengan Mbak Via serta diperkenalkan dan diperbolehkan singgah dirumah saudara kalian.


Terimakasih kepada keluarga besar Bunda Anis yang sudah mau menampung diri, mengizinkan diri ini tinggal berbulan-bulan lamanya disana. Juga terimakasih buat dede.


Kepada teman-teman 8-sekawan dan lainnya yang dikabawetan, terimakasih atas segala support dan salam perpisahan kala itu. Sungguh sangat berkesan dan kalian luar biasa.


Untuk seseorang yang kala itu juga turut andil dalam proses, memberikan dukungan, terima kasih, arigatou.

 

Dan untuk semua orang berpengaruh lainnya pada waktu itu dan namanya tak bisa tersebutkan satu-persatu disini, terimakasih banyak.


Itu adalah awalan dimana semua ini dimulai, dan tanpa keseluruhannya hari ini bukanlah apa-apa.


Penuh syukur tiada kira hingga berada ditahap ini, sekali lagi terimakasih kepada ibu dan bapak karena sudah menyayangi, mendo’akan, mensupport, dan memberi uang jajan setiap bulan hingga akhirnya selesailah masa kuliah ini yang harusnya 4 tahun menjadi 5 tahun. Buk - Pak, maaf atas permintaan nambah uang jajan yang tak terkondisikan, dan maaf atas akhir yang sedikit terlambat ini, semoga kalian tetap bangga. 


Terimakasih kepada saudara-saudaraku yaitu abang Wandi Rahayu dengan keluarga serta adik Umi Andani yang selalu ada menemani ibu-bapak dirumah karena adik dan mbakmu ini sedang merantau di negeri orang, terimakasih sudah ada menjadi saudaraku, dan terimakasih atas segala rasa sayang dan do’a.


Kepada Bapak Rinaldi atau yang kerap disapa Pak Rei, terimakasih sudah menjadi pembimbing skripsi terbaik pak, juga terimakasih atas dukungan, kesabaran dan Maaf atas segala kengeyelan juga keras kepalanya sani yang haqiqi ini pak.


Kepada sahabat karib yakni teman susah seneng sama-sama jatuh kepada Mput (Putri Nusa), Adek REP, Apak Dimas Sembodo, selamat sudah mendapat kesempatan mengenal juga dekat dengan diri ini, dan tak lupa kuucapkan terimakasih telah menemani perjalanan panjang hingga hari ini. Kalian luar biasa.


Kepada sahabat-sahabat jauh di Kabawetan (Bengkulu) sana, yakni 8-sekawan dan teman lainnya yang tak bisa tersebutkan namanya satu-persatu, peluk hangat dari Bukittinggi. 


Penyelesaian Skripsi ini juga tak terlepas dari pembimbing bayangan yang bekerja dibalik layar seorang Sani Utami, Khususnya Fatahillah Hidayat. Terimakasih sudah menjadi tempat penjawab tanya atas segala tanya, terimakasih sudah sabar bahkan sangat sabar menghadapi diri yang penuh dengan segala embel-embel dan keriwehan yang melekat. Pada Pu3 (Putri Rahmah),  Mama Boti-Boti (Kak Resti)  dan Dhita terimakasih telah menjadi pemberi saran yang baik. Untuk Ibukkuh (Nurhidayati) terimakasih traktirannya…ehh. Makasih udah nemenin sebar angket waktu itu ya buk’eee..


Pada teman-teman lainnya yang juga turut andil sampai proses ini, dan Namanya tak bisa tersebutkan, terimakasih banyak sudah ingin direpotkam, kalian sangat membantu dan mendukung. 


Terakhir, kepada diri sendiri…

Terimakasih sudah kuat dan mau berjuang sejauh ini.

Kamu hebat Sani Utami, versi terbaik bagi dirimu sendiri.


Akhir Kata, Terimakasih Semuanya.

Salam,  Sani Utami


Read More

Kamis, 17 September 2020

Memahami Masalah dengan Perasaan Nano-Nano

September 17, 2020 10

 

Picture by theleadershipnetwork.com

Hallo Diallogos…

Selamat malam, dan semoga lelapmu bisa terjaga.


Tetap sehat ya, stay safe, dan jangan lupa jaga kebersihan juga, rajin-rajin cuci tangan.!


Begini, rasanya ada yang sedang tidak baik-baik saja. Lagi-lagi memikirkan perihal hidup. Perihal yang bagaimana?


Ya, misalnya saja perihal masa lalu yang dirindukan, masa lalu yang ingin diubah, masa lalu yang menyakitkan, masa lalu yang tidak diinginkan mungkin. Atau perihal hari ini yang selalu dihadapkan dengan masalah, pilihan yang random, pengambilan putusan yang berat, keinginan yang tak kunjung terwujud, ego yang terus beradu dengan super ego??? Atau malah perihal harapan akan masa depan yang diiringi dengan segala ragu dan ketidakyakinan. Entahlah.


Berat??? Bisa jadi.

Rasanya ada begitu banyak ketakutan dalam setiap diri, rasa pesimistis, dan itu memusingkan karena cukup menggoyahkan “tekad”.


Beberapa sobat diallogos mungkin memiliki asumsi tersendiri untuk menentang ini. Namun juga ketahuilah, beberapa lainnya banyak terjebak karena ini.


“Terdengar sepele Padahal kompleks”


Begitulah manusia sebagai makhluk holistic yang artinya utuh, menyeluruh. Berbicara manusia tidak lagi hanya tentang logika, tapi juga afeksi, tidak lagi tentang mempertanyakan mengapa manusia bisa bertindak atau berkehandak, tapi cobalah pikirkan bagaimananya, karena sebuah sebab  akan berujung pada akibat. Intinya sebagai manusia kita dibekali berbagai komponen seperti biologis, psikologis, sosial serta spiritual dan keseluruhannya saling terkoneksi.


Bukankah baik, jika itu diterapkan ke segala aspek kehidupan kita sobat?, salah satunya seperti saat menghadapi  “masalah”. Kenapa masalah? Ya karena masalah adalah elemen yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Mungkin saja saat ini sobat Diallogos sedang berada dipisisi yang demikian. Mungkin yaa, karena ga ada yang tahu pastinya gimana kan sobat, hehehe. 


Oh iya, sobat Diallogos tahu darimana lahirnya masalah? Masalah itu terlahir dari adanya kesenjangan atau ketidakseimbangan antara harapan dengan realita yang terjadi. Sebagai masalah pun ia dapat memberikan dampak yang beraneka ragam bagi pemiliknya loh. Beberapa menjadikan kita sebagai pribadi yang kuat, pribadi yang tak mau menyerah. Dilain sisi, tak menutup kemungkinan bahwa masalah dalam hidup juga membawa derita tersendiri, menyiksa, dan itu tidak baik.


Mengapa bisa demikian? Karena mudah atau rumitnya masalah adalah hak  pribadi, buah dari hasil persepsi kita. Tak perlu menghakimi jika masalah orang lain  terasa lebih mudah dari masalahmu, karena mudah bagimu belum tentu baginya. Begitupun sebaliknya sobat.


Ingat, manusia itu unik. Begitu pula dengan masalahnya. Jadi, beda masalah, beda orang dan pastinya beda pula strategi atau cara penyelesaiannya.


Dengan keunikan itu,  tidaklah salah bagi kita untuk melihat sebuah masalah dari berbagai sudut pandang kan? Jadi, cobalah untuk melihat masalah secara menyeluruh, tidak hanya terpaku akan rasa sakit, berat beban yang harus dipikul jiwa, pahamilah bahwa terkadang siklus dalam hidup memang begitu. 


Dalam menghadapi masalah tak berarti kita juga harus berjuang sendirian bukan? 


Tidak, dan semoga sobat sekalian tidak merasa demikian. Jika sobat merasa masalah yang kalian hadapi begitu berat untuk dipikul sendirian, coba deh ceritain ke orang yang benar-benar bisa kalian percayai, entah itu orang tua, saudara, teman, atau jika dibutuhkan kalian bisa menghubungi ahli seperti Psikolog. Ya, setidaknya mereka bisa meringankan beban yang ada dipundak, memberikan sudut pandang yang berbeda, saran, atau bahkan bisa membantumu untuk mencari jalan keluar dari masalah yang terasa antah barantah. Jika ingin menangis, menangislah dahulu. Luapkan emosimu, terkadang itu juga cukup membantu.


Eh iya, sobat diallogos pernah dengar ga kalau masalah itu adalah bagian dari proses pendewasaan?


Setelah dipikir-pikir ungkapan itu ada benarnya juga ya, karena dengan masalah kita belajar akan banyak hal. Belajar tentang problem solving, toleransi/tenggang rasa, empati, dan belajar melihat berbagai kemungkinan dari sudut pandang lain. Itu penting tauuu…


Dengan masalah kita juga semakin dikenalkan dengan harapan, tekad serta keinginan untuk bisa bangkit, dan menjadi lebih baik, bahkan lebih baik lagi dari sebelumnya. Kesimpulannya, itu bagus. 


Toh, sejatinya setiap diri, setiap kita itu berproses. 

Sobat Diallogos pernah denger tentang hierarki Maslow? Dimana hierarki teratas manusia adalah untuk mencapai aktualisasi diri. 


Dan aktualisasi itu tidak didapatkan dengan begitu saja, intinya berproses dengan memenuhi hierarki-hierarki dibawahnya. Jika belum tahu dan masih ingin tahu tentang Hierarki Maslow ini, lain waktu akan Diallagi bahas deh. Tungguin aja update-an selanjutnya ya, see you…

(Sani Utami)


Read More

Jumat, 01 Mei 2020

Jangan Bosan, Terbiasalah Berbiasa

Mei 01, 2020 1
Januari, Februari, Maret, April dan Hari ini sudah Mei, namun entah mengapa keengganan ini masih juga terjaga.

Please...jangan berhitung lama kita tak berkabar, Jangan tanya berapa kisah yang terlewat, terima saja jikalau hari ini kukatakan sudah terlupa.

Tak perlu berharap lebih kehadiran kali ini, sebab aksara ini terangkai sebatas keinginan diri. So, berbahagialah jika perlu.

Memang, banyak kekhawatiran yang terjadi selama masa pandemi ini. Kewaspadaan dan ketakutan terangkai menjadi satu, begitupun dengan sepi, sedih, gelisah dan teman-teman seperjuangannya. Tapi tak juga dipungkiri bahwa ada banyak kebahagiaan baru yang tercipta. Jujur ini subjektif.

Awal pandemi dimana semua menyuarakan stay at home, work from home, dan hal-hal lainnya juga dilakukan di home, tak ada masalah. Sebab muasalnya diri ini sudah begitu, memegang identitas sebagai kaum rebahan. Tapi entah mengapa nuansanya sedikit berbeda. Terlepas dari itu, hal apa yang akan diri termasuk kamu lakukan selama masa pandemi agar terlepas dari kebosanan?

Waiting list terpampang.

Dan bahagian pertama adalah, membersihkan dan membereskan file-file lama yang jelas itu sampah. So delete, enter.
Namun ternyata, membuka folder lama dapat membuka ingatan-ingatan yang sempat tak berada ditempatnya. Beberapa adalah hal yang memang ingin kamu kenang, namun hal lainnya... Yah Syukuri sajalah, toh keberadaanmu saat ini juga terakit dari masa itu.

Kedua, adalah menjemput hobby lama yang tak pernah sempat dilakoni. Apa itu? menggambar. Perihal kamu diri ini belum tahu, jika ingin maka berceritalah, berbagilah.  Opsi kedua cukup menyenangkan, karena proses itu menghasilkan karya yang nyata, emosi terluapkan, ada keihlasan dan bonus torehan senyum ditambah rasa bangga yang dibumbui nano-nano. Iya, memang begitulah cara kerjanya.

Ketiga, membabu ria karena itu membuatmu sehat. Tak perlu bingung, akan diri ceritakan apa maksudnya setelah ini. Tak usah payah menunggu, begini maknanya: membersihkan rumah, membereskan lemari dan isi lemari, menyusun sepatu di rak sepatu, menghempaskan debu dari tumpukan buku-buku, menyusun jajanan khas cemilan, mencuci dan menghilangkan noda yang sudah masanya untuk dimusnahkan.

Keempat, diri ini termasuk kamu dapat berolah raga. Berjemur juga baik.

Kelima, mendukung opsi ketiga dan keempat dimana berkenaan dengan makan. Jadi kamu dapat mulai bereksperimen akan resep-resep yang terpampang di Instagram, youtube, tiktok dan media lainnya. Bebas dah, tapi ingat. Selain kenyang kamu harus tetap sehat dan baik-baik saja.

Keenam, memperbanyak ibadah.

Ketujuh, rebahan seutuhnya ditambah bonus mendengarkan podcast, streaming youtube maupun film, stalking doi atau mantan gebetan. Dijamin nagih. Jika tidak suka rebahan, duduk atau berdirilah sembari karakoean menghibur diri.

Kedelapan, membayar hutang baca buku yang sempat terabai. Jika ingin baca webtoon atau whatpadd juga boleh. Jika ingin mengenang dan membayar hutang teman yang sengaja dilupa juga bisa, karena membuat orang lain bahagia itu pahala kan?

Kesembilan, masih harus bekerja dan berbahagia. Tidak boleh stress terlebih sampai kelelahan. Jangan. Diri ini tak kuat melihatmu sakit.

Kesepuluh isilah berdasarkan apa yang kamu ingini, jangan melulu tentang diri ini.

Begitulah aktifitas akhir-akhir ini yang menjadi kesampaian dan harus terpenuhi. Sedikit melenceng dari kebiasaan itu biasa, sebab sekarang kita harus luar biasa. Berbicara perihal kebiasaan, untuk diketahui bersama bahwa menurut diri "Kebiasaan itu hanya tentang frekuensi dan durasi".
Ketika Frekuensi berkurang, durasi apa lagi, maka dijamin kebiasaan itu akan segera berubah.

So, terbiasalah berbiasa

Sani Utami.
Read More

Post Top Ad

<>